GASTRONOMI TUMPENG DALAM BUDAYA SELAMATAN MASYARAKAT JAWA
Keywords:
budaya, gastronomi, tumpeng, kulinerAbstract
Tumpeng merupakan kuliner tradisional dan tampil mewakili sebagai kuliner Nusantara. Tumpeng selalu dihidangkan pada acara merayakan hari ulang tahun, syukuran, yang bersifat non-formal ataupun formal. Pada penelitian ini bertujuan untuk mengetahui proses pelaksanaan tradisi syukuran Selamatan Budaya di indonesia khususnya masyarakat suku jawa yang menggunakan Tumpeng sebagai Sajian pada acara Selametan. Pada Penelitian ini menggunakan menggunkan metodologi kulitatatif deskriptif dimana penulis menceritakan historis dari tumpeng, Makna dari sajian tumpeng hingga cara penyajiannya serta dikatikan dengan budaya selametan yang ada pada kekebudayaan tradisional masyarakat jawa. Hasil penelitian ini adalah terdapat beberapa jeis kebudayaan yang menggunkan hidangan selamatan adalah Ngupati dan Mithoni. Ngupati berasal dari kata kupat, yakni nama makanan yang terbuat dari beras dengan daun kelapa (janur) sebagai pembungkus. Slametan ini biasanya dilakukan di saat usia kehamilan sekitar 4 bulan. Tradisi ngupati adalah slametan yang bertujuan untuk memohon kepada Tuhan, agar anak yang masih dalam kandungan ibu tersebut memiliki kualitas baik, sesuai dengan harapan orangtua. Dan Tradisi selamatan kematian atau tahlilan ini didasarkan pada konsep ajaran-ajaran yang dikembangkan. Awal mula dari acara Selamatan atau tahlilan tersebut berasal dari upacara peribadatan (selamatan) nenek moyang bangsa indonesia yang mayoritasnya beragama Hindu dan Budha dan biasanya mereka menggunakan Tumpeng Pungkur dalam Acara tahlilan tersebut. Dari Penelitian ini dapat disimpulkan Jika dilihat secara keseluruhan, makna-makna inilah yang menjadi identitas budaya dan masyarakat Jawa (dan Indonesia pada umumnya) sehingga hadirnya tumpeng juga mengingatkan kita tentang siapa kita dan apa yang membuat bangsa kita berbeda dari bangsa lain. Tumpeng bisa dikatakan sebagai makanan khas Indonesia Karena Tumpeng sendiri hanya berda di Indonesia Khususnya Untuk Masyarakat Jawa yang masih menganut Aliran kepercayaan Tradisi ini seperti sudah mendarah daging di kalangan masyarakat Jawa. Ada juga yang salah kaprah, terlalu mengagungkan prosesi ini. Menghadapi pluralisme semacam ini, kita harus bersifat multikulturalisme.
