KOMODIFIKASI ONDEL-ONDEL SEBAGAI TRADISI BUDAYA BETAWI DI KEMAYORAN JAKARTA PUSAT
Abstract
ABSTRACT
Ondel-ondel is a typical Betawi tradition, in the form of a giant doll that is believed to repel reinforcements and drive out bad spirits. Previously Ondel-ondel was known as Barongan which had a more sinister physical appearance than now. Over time, the appearance of Ondel-ondel began to be improved by making Ondel-ondel's face seem more friendly and human-like. Ondel-ondel has a philosophy as a symbol of strength that has the ability to maintain security, order, honest, firm and anti-manipulation. However, a past few years ago Ondel-ondel began to bloom used as a means to make money or busking on the side of the road.
From this phenomenon, researchers used a descriptive qualitative method to describe how people responses to Ondel-ondel commodification and how this Ondel-ondel tradition became an object of commodification that became a sale value object. From the results of the research of several informants, it was found that there were different points of view which assessed the activity as positive and negative. Where the existence of economic problems is the main thing from the beginning of the development of Ondel-ondel busking activities every days are increasingly crowded and more increased. This makes a negative response from several speakers such as institutions and the community, Ondel-ondel buskers are underestimated and considered to reduce cultural values. There are also several speakers such as culturalists and organizations who provide the same response regarding Ondel-ondel activities as a means of busking but still proclaim the activity because it is considered a form of effort for someone who is making a living to survive. Therefore, researchers hope that there is a good solution between the government, community leaders and also the Ondel-ondel busking worker themselves so that the Ondel-ondel culture can still be enjoyed by the wide community as well.
Keywords: Commodification, Tradition, Betawi Culture, Ondel-ondel
ABSTRAK
Ondel-ondel merupakan tradisi khas Betawi, berwujud boneka raksasa yang dipercaya sebagai penolak bala dan mengusir roh halus. Sebelumnya Ondel-ondel dikenal dengan nama Barongan yang memiliki tampilan fisik lebih menyeramkan dibanding sekarang. Seiring berjalannya waktu, penampilan Ondel-ondel mulai diperbaiki dengan membuat wajah Ondel-ondel terkesan lebih ramah dan selayaknya manusia. Ondel-ondel memiliki filosofi sebagai lambang kekuatan yang memiliki kemampuan untuk memelihara keamanan, ketertiban, jujur, tegas dan anti manipulasi. Namun, beberapa tahun kebelakang Ondel-ondel mulai marak dijadikan sarana untuk mencari uang atau mengamen di pinggir-pinggir jalan.
Dari fenomena diatas, peneliti menggunakan metode kualitatif deskriptif untuk menjabarkan bagaimana tanggapan masyarakat terhadap komodifikasi Ondel-ondel dan bagaimana tradisi Ondel-ondel menjadi suatu objek komodifikasi yang menjadi nilai jual. Dari hasil penelitian beberapa narasumber, ditemukan ada beberapa perbedaan sudut pandang yang menilai kegiatan tersebut merupakan hal yang positif dan negatif. Dimana adanya permasalahan ekonomi merupakan hal utama dari awal mula perkembangan kegiatan Ondel-ondel mengamen ini kian hari kian ramai dan semakin banyak. Hal tersebut membuat tanggapan yang negatif dari beberapa narasumber seperti lembaga dan masyarakat, pengamen Ondel-ondel dipandang sebelah mata dan dianggap menurunkan nilai-nilai kebudayaan. Ada pula beberapa narasumber seperti budayawan dan organisasi yang memberikan tanggapan yang sama terkait kegiatan Ondel-ondel dijadikan sarana mengamen namun tetap masih memaklumkan kegiatan tersebut karena dinilai hal tersebut merupakan bentuk usaha seseorang yang mencari nafkah untuk bertahan hidup. Oleh karena itu, peneliti berharap adanya solusi yang baik antara pemerintah, tokoh masyarakat dan juga pelaku kerja Ondel-ondel mengamen itu sendiri agar kebudayaan Ondel-ondel tetap dapat dinikmati oleh masyarakat luas secara baik.
Kata Kunci : Komodifikasi, Tradisi, Budaya Betawi, Ondel-ondel
